Duhai angin dalam benakku
Hembuskan asa dalam citaku
membawa raga terhanyut dalam kalbu
Dan malam terhenti pagi dengan indahnya
Diam
Aku terhanyut dan diam
Terpana aku dalam dekap pancarmu
Lalu hilanglah sudah penat dengan hadirnya senyummu
Lalu aku berperanjak pergi meninggalkan sunyi
mencari yang hilang untuk datang
Temani aku dalam gemerlap hatiku
Lalu cahaya pergi meninggalkan lelah
Bersama senja aku berada
Dan aku terdiam bersama malam
Meninggalkan siang yang telah hilang
Menunggu pagi bersama bintang
Kau dan Aku wahai diam dan hilang
20 September 2010
Sebab Kita Satu
Sejarah adalah mata dalam hidup kita
Tanpa sejarah kitak tak dapat melihat kita buta
dulu Mereka berdiri dengan gagah dan berkata
" satu lalat takkan mati dengan satu lidi tapi menyatukan setiap lidi menjadi utuh dan satu dapat membunuh lalat"
Warna munkin membedakan kita
Tapi perbedaan bukan alasan
Lihatlapelangi saudaraku mereka berbeda tetap indah
Tujuh warna menjadi satu
adakah perbedaan itu merusak keindahannya
Lihatlah sejarah saudaraku
bukan senjata canggih yang dapat menyatukan mereka
tapi mereka menyatukan asa mereka
Adakah makna itu tersirat padamu
Untuk apa pencakar langit berdiri dengan kokoh
tapi hati kita roboh
kenapa kita dulu kita merdeka
sebab mereka bersatu
kenapa kita menjadi Indonesia sebab kita satu
mari kita sisihkah benci dan dengki
marilah kita satukan hati kita
Sebab kita Indonesia
Tanpa sejarah kitak tak dapat melihat kita buta
dulu Mereka berdiri dengan gagah dan berkata
" satu lalat takkan mati dengan satu lidi tapi menyatukan setiap lidi menjadi utuh dan satu dapat membunuh lalat"
Warna munkin membedakan kita
Tapi perbedaan bukan alasan
Lihatlapelangi saudaraku mereka berbeda tetap indah
Tujuh warna menjadi satu
adakah perbedaan itu merusak keindahannya
Lihatlah sejarah saudaraku
bukan senjata canggih yang dapat menyatukan mereka
tapi mereka menyatukan asa mereka
Adakah makna itu tersirat padamu
Untuk apa pencakar langit berdiri dengan kokoh
tapi hati kita roboh
kenapa kita dulu kita merdeka
sebab mereka bersatu
kenapa kita menjadi Indonesia sebab kita satu
mari kita sisihkah benci dan dengki
marilah kita satukan hati kita
Sebab kita Indonesia
Sinar Untuk Sahabat
Jika bintang itu bersinar untukku
Maka lihatlah ku kan bersinar untukkmu
Dan tersenyum untukmu
Aku ksn menjadi bintang bila kau mau
Terus sinari gelap malammu
Takkan berhenti hidupkan malam
Indahkan disaat dunia gelap kelam
Karena ku percaya kaulah malam yang sejati
Janganlah menangis hanya untuk menyesal
Yang ada hanya pedih yang mengganjal
Lihatlah aku disini menjagamu sebagai teman sejati
Menemanimu saat perih
Sahabat janganlah kau maenangis
karena duka pasti berganti
Tersenyumlah kuminta tersenyumlah untuk jiwa yang sepi
karena aku pasti disini tuk temani
Jlani bersama habiskan hari
Maka lihatlah ku kan bersinar untukkmu
Dan tersenyum untukmu
Aku ksn menjadi bintang bila kau mau
Terus sinari gelap malammu
Takkan berhenti hidupkan malam
Indahkan disaat dunia gelap kelam
Karena ku percaya kaulah malam yang sejati
Janganlah menangis hanya untuk menyesal
Yang ada hanya pedih yang mengganjal
Lihatlah aku disini menjagamu sebagai teman sejati
Menemanimu saat perih
Sahabat janganlah kau maenangis
karena duka pasti berganti
Tersenyumlah kuminta tersenyumlah untuk jiwa yang sepi
karena aku pasti disini tuk temani
Jlani bersama habiskan hari
Perbedaan Itu Indah
Andaikan warna kita sama
Aku hitam Kamu pun hitam
Dapatkah kita mengenal putih
Andaikan Agama kita sama
Aku Muslim Kamupun Muslim
Dapatkah kita mengenal Pancasila
Andaikan bahasa kita sama
Aku jawa kamupun jawa
dapatkah kita mengenal sunda
Apakah kita menginginkan seperti itu?
Kalau aku tidak..!
Tidakkah perbedaan itu begitu indah
Seperti pelangi
Kita harus tahu karena perbedaan kita satu
Berbangsa Indonesia
Bernegara Indonesia
Berbahasa satu Bahasa Indonesia
Karena Kau dan Aku Indonesia
Di Sudut Lampu Merah
Aku terpana negri ini
Disudut jalan di kota kita ada orang duduk tertawa
Dia tertidur dengan lelapnya
Tiada berdaya dengan dunia
Uang berbunyi tiada berguna
Tapi di Sudut Lain Di Lampu Merah
Seorang anak bernyanyi dengan hati berduka
Memikirkan masa depannya
"Akakah terus dijalanan bunda" Tanya hatinya
Tapi mereka tiada meronta
Sejak mereka terlahir hidup mereka sudah terjajah
Dilahirkan di tempat sampah
Di Sudut Lampu Merah ini mereka hidup
Menggantungkan diri dari sesuap nasi dari belas kasih
tapi disudut lain disana tiada berguna tanpa upaya
hanya diam begitu saja
wahai anak jalanan bernyanyi-nyanyi dengan gembira
hanya berpikir dapat sekolah
Tapi tenanglah pengamen cilikku sayang
Bunda memasak engkau mengais rezeki
duhai anakku jangan bersedih
Karena disini kita belajar
Di Sudut Lampu Merah ini kita bersabar.
With Love God
you never can see me like i see you
but God can see all my feel
It's love beneath my sorrow
and perhaps i am gonna let it go
laet my dreams and let my imagine
i don't know! When you can understood me
but you never know it
Between my dreams, i remember God and love of God
Ago, with love i stood!
but now 'cause love i down!
You know that, i think know!
I always pray " God give me your love and if i lose rescue me from a sin
15 Juli 2010
INDAH
Mengapa aku hanya bisa merangkai kata menjadi sebuah puisi
Tapi tak dapat kurangkaikan menjadi sebuah cerita dengan alur yang indah
"Entahlah!"dalam benakku
Kini ku mencoba 'tuk mengikatkan puisi itu
Ternyata tetap saja tak bisa mengapa?
Jawabnya masih entahlah!
Lalu aku mencoba lagi
Bukan hanya tuk kulihat
Tapi kulekatkan sangat erat di dalam hatinya
Ternyata masih tak bisa
Mengapa masih dalam benakku " Entahlah!"
Tapi tak dapat kurangkaikan menjadi sebuah cerita dengan alur yang indah
"Entahlah!"dalam benakku
Kini ku mencoba 'tuk mengikatkan puisi itu
Ternyata tetap saja tak bisa mengapa?
Jawabnya masih entahlah!
Lalu aku mencoba lagi
Bukan hanya tuk kulihat
Tapi kulekatkan sangat erat di dalam hatinya
Ternyata masih tak bisa
Mengapa masih dalam benakku " Entahlah!"
Terlambat
Kini ku terlambat tuk akui
Dengan semua yang telah terjadi
Dulu ada kamu yang ada disini
Yang menemani aku saat sepi
Bersama-sama berdiri menanti hujan yang turun kebumi
Kini aku benar-benar terlambat 'tuk katakan semua
Tentang semua cerita yang pernah ada
Sekarang semua telah tiada
Yang ada hanya duka dan lara
Kau pergi tinggalkanku s'lamamya
Kini aku ingin akui dan katakan
Tentang semua hati dan perasaan
Aku meniti hati dengan harapan
Seperti perasaan yang aku ingin tunjukkan
Tapi sayang semua ini hanya kesia-siaan
Dengan semua yang telah terjadi
Dulu ada kamu yang ada disini
Yang menemani aku saat sepi
Bersama-sama berdiri menanti hujan yang turun kebumi
Kini aku benar-benar terlambat 'tuk katakan semua
Tentang semua cerita yang pernah ada
Sekarang semua telah tiada
Yang ada hanya duka dan lara
Kau pergi tinggalkanku s'lamamya
Kini aku ingin akui dan katakan
Tentang semua hati dan perasaan
Aku meniti hati dengan harapan
Seperti perasaan yang aku ingin tunjukkan
Tapi sayang semua ini hanya kesia-siaan
Perasaanku
Ketika aku mulai letih dengan waktu
Dan ketika ku menyesali yang telah berlalu
Aku mencoba mencari secercah cahaya dalam hidupku
Dan kumulai nerpikir ini salah
Ingin kuhujat Engkau dengan kebencianku
Ingin kumaki Engkau degan kemarahanku
Tapi sudah terlambat
Ini hanya membuatku lelah dan membisu
Aku benci dengan takdir yang kualami
Tiada kepastian arah untuk aku melangkah
Semua telah sirma seiring datangnya nestapa
Aku malu!
Aku geram!
Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya
Agar semua dengar
Agar semua tahu
Dan aku benci dengan semua yang tak peduli
Yang hanya bisa diam dan tertawa tanpa pernah merasa
Hingga akhirnya yang ada hanya kemarahan belaka
Aku diam dalam hati yangt berkecamuk
Seakan petrir yang membelah bumi dengan suaranya yang memekikkan
Dan aku masih dengan pandanganku yang hina dan pemahamanku yang bodoh
Dan masih membenci Engaku dengan hati tak berperasaan diam dan geram
Dan ketika ku menyesali yang telah berlalu
Aku mencoba mencari secercah cahaya dalam hidupku
Dan kumulai nerpikir ini salah
Ingin kuhujat Engkau dengan kebencianku
Ingin kumaki Engkau degan kemarahanku
Tapi sudah terlambat
Ini hanya membuatku lelah dan membisu
Aku benci dengan takdir yang kualami
Tiada kepastian arah untuk aku melangkah
Semua telah sirma seiring datangnya nestapa
Aku malu!
Aku geram!
Aku ingin berteriak sekencang-kencangnya
Agar semua dengar
Agar semua tahu
Dan aku benci dengan semua yang tak peduli
Yang hanya bisa diam dan tertawa tanpa pernah merasa
Hingga akhirnya yang ada hanya kemarahan belaka
Aku diam dalam hati yangt berkecamuk
Seakan petrir yang membelah bumi dengan suaranya yang memekikkan
Dan aku masih dengan pandanganku yang hina dan pemahamanku yang bodoh
Dan masih membenci Engaku dengan hati tak berperasaan diam dan geram
Langganan:
Postingan (Atom)