Adakalanya, aku mengerti arti diamku...
Tersenyum sendiri saat bayangmu bertamu,
Lalu tertawa, menertawakan getir hidupku.
Namun akhirnya, aku menangis sepi tanpamu;
Sebab sejak awal, di kamar ini, aku memang sendiri.
Kasih...
Aku menantimu di ujung gelisah yang panjang,
Namun kau benamkan aku dalam kenangan yang fana.
Kasih...
Aku menunggu jemarimu menyatu dalam genggamanku,
Namun kau memilih asing, berjalan menjauh dalam amarah.
Kasih...
Aku mendamba hadirmu meredam sunyi di batinku,
Namun sekian lama, tatap matamu tak jua menyapaku.
Kasih...
Mengapa langkahmu tak kunjung kembali pulang?
Ataukah kau telah lesap, benar-benar melupakanku?
Mengapa kau sekejam itu pada setianya penantianku?